Sunday, June 3, 2012

Ketika ANGKA jadi masalah


Tahun ini adalah tahun-tahun gue bermasalah sama yang namanya ANGKA. Galau abis gue sekarang kalau berurusan sama angka. Well, mungkin ga hanya gue yang bemasalah sama satu hal ini. Most of makhluk yang nama nya CEWEK gue yakin juga sensitif sama hal yang satu ini. ANGKA. Kenapa sih?
Nih yah gue kasih tau indikator mulanya ANGKA jadi masalah buat hidup gue :

1      UMUR
Mungkin gue ga akan terlalu bermasalah sama ANGKA sebagai indikator dalam hal ini (red: UMUR) kalo aja gue ga masuk kuliah telat setelat ini. (2 taun mameeen T.T)
Eh, tapi dari segi kuliah nya sih gue ga nyesel. Lagian brondong aja (red: temen seangkatan) masih aja ada yang gombalin gue dan pedekate sama gue. Even, udah gue bilang umur gue sama tuh bocah jauh beda. HAHA Terus apa dong yang jadi masalah. WISUDA... Gue sedih banget deh kalo liat temen-temen gue sibuk skripsi, sibuk kkp sedangkan gueeee?? Baru siap-siap mau KRS-an brooh! :/
Ada lagi nih, ulah temen gue dikelas, sebut saja RIFAYANA SINAGA dan NINA JULIYANA a.k.a Tante dan Mamih seperjuangan. (seperjuangan mangkal? Haha) mereka tuh sadis banget kalo ngeledekin gue dengan sesuatu yang berhubungan ddengan UMUR gue. Gue Cuma bisa bilang. ANJIIIIR -,- haha
Mmmm tapi-tapi gue enjoy aja sih, ga rame juga kalo mereka ga ledekin gue. Kayak ada yang kurang gitu. Tapi tetep ya lo berdua ga sopan sama gue! Liat tar yang nama nya KARMA. HAHAHA :p

2.      IPK
Dengan segala perjuangan dan kegalauan akhirnya gue bisa kuliah juga kan. Tapi tapi tapiiii. IP gue masa kecil deh L Ga sesuai sama harapan bangeeeet. Makanya tekad nih semester 2 HARUS targetnya tercapai. Bismillahirrahmanirrahiiim :D

3.      BERAT BADAN
FYI. Kalo boleh jujur, tahun ini merupakan tahun kelam nya gue L banyak banget masalah yang gue hadepin dari mulai organisasi, keluarga, cinta, kampus, masa lalu daaan lainnya. Bener-bener mental gue buat ngerasa hidup normal tuh lagi diuji. Bisa dibilang gue lagi STRES berat. Tapi tapi tapiiii MASA STRES BIKIN GUE JADI GENDUT SIH! Gila, emang gue nyadar sih kalo gue GA KURUS. Tapi gue ga nyangka gue SEGENDUT ITU. Sekali lagi gue cuma bisa bilang ANJIR. Kalo tadi ga ikut gathering nya QC Prafa dan ga di tag-in poto-potonya di facebook. Gue ga akan pernah nyadar kalo badan gue segembung itu, Dan itu bikin gue makin STRES...
KESIMPULANNYAAAAA. Gue gabisa ngerubah umur gue, tapi gue masih bisa ngerubah IPK dan BERAT BADAN gue!

Berat Badan à Harus jadi kayak SMA lagi 50 kg! (sekarang kayaknya udah 65 kg deh berat badan gue)
IPK à IPK min HARUS 3.5 demi menunjang minor gue GIZI MASYARAKAT. Malu dooong sama minor! :D

Sedikit review dan perbandingan yang sangat jelas dan bikin GALAU...
ini sekitar 2 tahun lalu. kurus kaaan haha


masih sama...


ini ga kurus sih.. tapi ga gendut kaaan


mulai deh Institut Penambah Berat badan IPB


oh my god


mulai gendut lagi...


:(


ini yang sangat bikin gue GALAU dan STRES

Friday, June 1, 2012

Acuh

picture from here


Melangkah sendiri
Dunia selalu tinggalkan aku
Tersesat dan jatuh
Saat ku mencoba untuk bertahan...

Entah berapa lama aku mencoba untuk mengatasi semua rasa sepi ini, tapi yang terasa hanya sepi. Banyak orang disekelilingku. Ahh.. tapi mereka hanya mampu meredakan sepiku untuk sekejap saja.

Dan kau pun datang
Selamatkanku
Bawa ku pergi
Dengan sayapmu...

Entah aku sudah lupa bagaimana bahagia nya aku saat kau datang.
Saat aku merasa dunia menjauh kau baru mengenalku, dan kau belum tau siapa aku.
Tapi pancaran bersahabat dari mu membuatku tak takut lagi untuk bermimpi

Ku melayang
Tinggalkan segalanya
Terbang tinggi
Melintasi sang langit

Andai saja semudah itu, semudah meringankan tubuh lalu melayang terbang
Pasti aku sudah terbang jauh meninggalkanmu sebelum jarak mu terlalu jauh untuk dijangkau olehku
Lebih baik aku yang pergi daripada aku ditinggalkan terpuruk
Bukankah aku sudah punya sayap?

Ku menjelma
Jadi bintang terindah
Saat kau
Disisiku

Ya, andai kau tetap dan selalu disisiku mendengarkan ocehan ku, menemaniku saat dunia ku hancur
Aku pasti sudah menjadi bintang terindah saat ini.
Hanya andai...

TUHAN

Tuhan :'(

Friday, May 4, 2012

It's all about Education

Potensi Pendidikan dan Masalah yang Menyertainya
Oleh : Adinda Widanty
Fakultas Ekologi Manusia, Dept. Ilmu Keluarga dan Konsumen
Institut Pertanian Bogor

photo from here
Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak potensi sumber daya baik itu sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Namun, sayangnya sumber daya alam yang ada, kurang bisa dimanfaatkan secara potensial dan benar. Salah satu penyebabnya adalah dalam hal sumber daya manusia yang tersedia kurang memadai dari segi ilmu pengetahuan sebagai alat untuk mengolahnya. Padahal apabila ditinjau dari segi kuantitas, sumber daya manusia di Indonesia sangat banyak. Mengapa masyarakat yang merupakan sumber daya manusia di negara Indonesia terbatas dalam hal ilmu pengetahuan? Masalah yang sangat utama adalah pendidikan.

Sangat miris memang jika melihat program pemerintah sekarang yang telah mewajibkan bahwa setiap masyarakat khususnya anak-anak di Indonesia mendapatkan hak pendidikan di Indonesia dengan Wajib Belajar 12 tahun, tetapi masih banyak sekali anak-anak dan remaja yang kehilangan hak nya untuk mendapatkan pendidikan selama 12 tahun tersebut.

Banyak faktor yang menyebabkan mengapa anak-anak lebih banyak yang bekerja pada usia sekolah dari pada anak-anak yang mengenyam bangku pendidikan, salah satu faktor utama adalah biaya pendidikan. Namun memang bukan hanya faktor biaya saja, karena pada kenyataannya sudah banyak program pemerintah yang membantu dalam segi biaya salah satunya seperti BOS, faktor lainnya adalah tenaga pengajar yang kurang dan faktor yang tak kalah berpengaruh lainnya adalah kurangnya kesadaran keluarga dalam hal pengembangan pendidikan bagi anak-anaknya.

Merupakan pengalaman yang sangat menyedihkan saat harus menyaksikan seorang anak usia remaja yang seharusnya sedang mengenyam bangku pendidikan agar bisa berkontribusi dalam kehidupannya, bahkan agar nanti nya bisa berkontribusi dalam pembangunan negara. Namun, mereka malah sedang bekerja ‘menjual’ suara dari satu angkutan umum ke angkutan umum yang lainnya. Bahkan, sekilas terdengar lagu yang mereka nyanyikan liriknya mengkritisi mahalnya biaya bangku pendidikan yang seharusnya bisa mereka cicipi. Mereka secara tidak langsung menyesalkan nasib mereka yang seharusnya bisa sekolah dan mengubah nasib tapi karena terbentur masalah biaya akhirnya mereka harus bekerja di atas angkutan umum, menjual suara mereka demi seratus dua ratus rupiah.

Terkadang setelah mereka terlena dengan mudahnya mencari uang, anak-anak jalanan dan pengamen jalanan tadi sudah tidak lagi memikirkan tentang pentingnya pendidikan. Banyaknya rumah singgah, sekolah alam gratis dan berbagai fasilitas lain yang mendukung mereka untuk melanjutkan pendidikan ditinggalkan begitu saja. Mereka berfikir, jika dengan menyanyi di jalan saja mereka sudah bisa mendapatkan uang untuk makan, untuk apa susah-susah sekolah? Sedangkan untuk sekolah saja membutuhkan biaya untuk alat tulis, buku-buku, seragam, biaya transportasi dan lain-lainnya yang menurut mereka tentu tidak sedikit. Pemikiran tentang pendidikan seperti inilah yang seharusnya ditata ulang oleh para akademisi yang ingin berkecimpung dalam dunia sosial dan pendidikan.

Masalah pendidikan bukan hanya ditinjau dari masyarakat yang tidak bersekolah saja, bahkan masalah pun timbul saat pendidikan sudah berlangsung. Diantaranya adalah kurangnya sarana fisik dan rendahnya motivasi siswa dalam berprestasi. Tak hanya kedua masalah itu saja, tetapi memang bisa jadi kedua masalah di atas menjadi sumber dari timbulnya masalah pendidikan lainnya.

Adanya bangunan sekolah tidak menjamin kegiatan pendidikan sudah dapat berjalan dengan lancar. Karena masih banyak juga sarana fisik yang belum memenuhi persyaratan untuk kelancaran proses belajar mengajar, gedung yang rawan roboh, laboratorium sebagai pra sarana yang kurang, buku-buku pengantar yang tidak tersedia yang kemudian hal-hal ini memicu ketidaknyamanan proses belajar mengajar dan target dalam pembelajaran akhirnya tidak tercapai. Dengan kurangnya sarana fisik bisa jadi secara perlahan dan tidak langsung akan menyebabkan rendahnya motivasi para siswa untuk berprestasi, karena mungkin saja dengan ada nya kesulitan mengakses materi pembelajaran menjadikan siswa merasa bingung dalam belajar dan akhirnya motivasi belajar mereka berkurang.

Jika berbicara tentang masalah pendidikan, apalagi di Indonesia, memang tidak ada habisnya. Bahkan, sampai saat ini pun masalah pendidikan belum sampai kepada titik terang penyelesaiannya. Masih banyak masyarakat yang putus sekolah, tingginya angka pengangguran pada lulusan sekolah (SMA, Diploma bahkan Sarjana) karena rendahnya relevansi antara pendidikan dan kebutuhan, dan masalah lainnya. Solusi yang paling mendasar adalah dengan menyentuh kepada masalah kualitas antara tenaga pendidik atau guru, agar bisa berperan secara maksimal dalam memajukan pendidikan, dan tidak lupa dengan memberi pengertian agar pola berfikir masyarakat tidak hanya berpandangan pada kebutuhan saat ini melainkan agar mereka bisa berfikir bahwa pendidikan di masa depan berperan amat besar dalam kesejahteraan. Pemberian pengertian ini bisa melalui penyuluhan tentang pendidikan secara kontinu dan menargetkan kepada lingkup masyarakat kecil terlebih dahulu yaitu masyarakat keluarga.

Hal yang terpenting bagi kita semua adalah menyadari bahwa kontribusi kita dalam menyelesaikan masalah negara, dalam hal ini pendidikan, sangat dibutuhkan. Berikanlah yang mampu kita berikan dalam membantu pendidikan di Indonesia. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk membantu memahami dan mencari solusi yang lebih menjurus untuk masalah-masalah pendidikan saat ini. Jaya Pendidikan Indonesia!


Tulisan ini dibuat saat saya mencoba melamar kerja part time sebagai guru privat untuk anak SD di tempat yang dikelola oleh teman saya. Salah satu persyaratannya adalah dengan membuta essay bertemakan pendidikan. So, here it is. *Well, if we talking about education, especially in our country, it'll takes a long time to discuss. Agree? :D


Wednesday, February 8, 2012

Power of Spirit

pict from here

Berawal dari sebuah keinginan mulia. *etseeeh dramatis.  Jadi konon di tempat kuliah saya tercinta ‘aka’ IPB ada sebuah UKM yang lumayan terkenal, yang prestasi nya juga lumayan banget udah go internasional. Well, satu-satunya paduan suara di IPB. Nama paduan suara nya PSM Agria Swara. Saya yang memang telat kuliah dan sudah lumayan banyak tau tentang IPB dan seisinya termasuk Agria Swara dari teman saya angkatan 2009, sudah bertekad buat masuk Paduan Suara tersebut jika jadi kuliah di IPB (tadinya saya ga pernah ngebayangin akan jadi lanjutin kuliah).

Banyak banget cerita yang saya dapet tentang IPB dan Agria Swara dari teman yang memang kuliah duluan di IPB. Kaguuuum banget sama cerita mereka tentang kerennya PSM di Institut Pertanian tersebut, dari yang juara antar PSM universitas se-Indonesia, sampe yang dapet Gold Medal di lomba konser luar negeri. Dan saya yang memang hobi nyanyi bertekad bener-bener untuk jadi tim inti dari paduan suara tersebut. Dimulai lah perjalanan saya berjuang masuk universitas dengan segala kegalauannya, ternyata saya diterima di IPB, tau ngga yang saya fikirkan pertama kali saat saya masuk IPB? Bukan kuliahnya, tapi UKM terutama Agria Swara nya. Ckckck mahasiswa macam apaaaa? *PLAK

Bulan Agustus saya lewati dengan penuh perjuangan (ini agak berlebihan sih :p ) Well, perjuangan untuk bersabar menantikan kapan ada Open Recruitmen Agria Swara, ada satu lagi UKM yang saya incer di IPB ini, yang katanya bergengsi banget dan susah banget masuknya, dan sepupu saya angkatan 2005 udah recommend UKM ini ke saya jika nanti saya masuk IPB. Tersebutlah UKM tersebut IAAS. International Association of Agricultural and Related Sciences. Kumpulan anak pinter yang rata-rata jago debat bahas Inggris dan berasal dari Dept Ilmu Teknologi Pangan (ITP) dan ITP ini memang departemen favorit di IPB, ga sembarangan orang bisa masuk departemen tersebut. Yaaaaa orang yang otaknya di atas rata-rata lah. IAAS ini berkecimpung dibidang kegiatan sharing tentang pertanian gitu, menjembatani anggota nya yang mau beasiswa ke luar negeri, yang mau bikin karya tulis ilmiah, dan UKM ini full english time. Pokonya ga boleh dipandang sebelah mata lah, kalau Agria Swara sering ‘membuang’ anggota nya keluar negeri lewat konser nyanyi nya, IAAS ini ‘mendepak’ mahasiswa nya keluar negeri lewat acara kongres, lomba karya tulis, beasiswa dan lainnya contohnya World Congress (WOCO) yang tahun ini akan diadakan di Belgium. Tentunya ga sembarangan anggota bisa ikut WOCO ini, serangkaian interview berbahasa inggris harus dilewati terlebih dulu.

Dan ternyata Open Recruitment (OR) IAAS dibuka lebih duluan dibandingkan Agria Swara, karena itu saya mau share tentang UKM IAAS terlebih dulu. Dengan semangat 45 saya ngajak 2 orang temen saya buat ikutan IAAS, bayar 2000 rupiah untuk beli formulir dan dapet stiker (sampe sekarang stiker nya masih bertengger di binder saya :D ). Tapi, ternyata 2 orang temen yang saya bawa untuk daftar IAAS ga begitu minat sama UKM ini, jadilah saya sendiri yang balikin formulir nya. Temen sekelas saya juga jarang yang minat sama UKM ini.

Akhirnya dimulailah interview untuk jadi anggota IAAS. Saya yang cuma sendiri karena temen-temen yang saya kenal yang awalnya mau ikut interview ternyata ga ada yang jadi. SEDIH. Sendirian interview (banyak sih ada sekitar 500an orang yang rata-rata belum saya kenal, maklum lah mahasiswa baru :p) Dan ternyata saat interview saya ketemu temen SMA yang udah duluan kuliah, jadi walaupun waktu SMA dulu kita seangkatan bahkan sebangku, dia di IPB ini jadi kakak tingkat saya (nasib yang telat kuliah. Hehe) dan dia ikut OR IAAS juga. Hahaha ga kebayang senengnya saya ketemu sama orang yang saya kenal diantara ratusan orang yang ga saya kenal. Ternyata dulu waktu tahun pertama kuliah dia udah sempet ikut OR IAAS tapi ga diterima saking selektifnya ni UKM memilih anggotanya. Ciut lah saya, saya yang notabene ga pernah ikut organisasi di SMA, di SMP paling pasus yang itu pun berenti ditengah jalan dan minat saya yang sebenarnya adalah Paduan Suara, bukan IAAS ini. Akhirnya saya minta tips sama temen saya yang punya pengalaman sebelumnya OR UKM IAAS ini. Dengan senang hati dia ngajarin saya, dimana saat jawab pertanyaan mereka saat interview saya harus yakin dan harus terlihat cerdas. Sumpah saya ga punya persiapan apapun. Lalu tak lama teman saya dipanggil namanya oleh panitia OR untuk mulai interview. Saya ditinggal sendiri lagi dan sekarang dengan tambahan beban mental. Saya ga ada persiapan apa-apa *NANGIS. Tapi dalam hati saya terus ngomong “SAYA HARUS DAPETIN NI UKM, HARUS, HARUS” gila saat itu saya baru ngerasain yang namanya ambisi, seumur hidup saya sekolah saya baru tau yang nama nya ambisi itu waktu mau masuk kuliah. Sedih banget ya? Bedanya saat itu di hati saya terus ngomong “SAYA HARUS DAPET SNMPTN, SAYA HARUS KULIAH, HARUS KULIAH TAHUN INI, HARUS!” dan the power of spirit, kekuatan keyakinan memang mengarahkan kita buat berhasil. Trust me it works (ini iklan tapi saya lupa iklan apa), Saya bisa juga akhirnya kuliah walaupun sebelumnya harus melalui rintangan serta kegalauan. Lebay tapi bener.

Back to the topic. Dan taukah pemirsah? Akhirnya nama saya dipanggil untuk mulai interview, 3 post mameeeen. Post pertama saya di interview sama kakak IAAS (yang belakangan saya tau jika dia udah alumni). Kocak deh ini kakak. Awal dari interview

Kakak IAAS : “Hello.. (lalu dia liat formulir berisi nama saya) Adinda?” *saya cuma mesem-mesem tegang. KO UDAH LANGSUNG NGOMONG BAHASA INGGRIS AJA NIH KAKAK? Trus dia nanya lagi “Can you introduce yourself first?”

Me : “Should we have conversation in english sir?” (sumpah saya ngerasa bego deh nanya kayak gitu dan ‘sir’ apa ituuu? Masa saya tadi bilang ‘sir’ ya? Bener ga sih dia bapak-bapak? -_-

Kakak IAAS : “It’s all up to you, english is better but if you want to speak with Indonesian it’s okay, it doesn’t matter at all”

Me : ... BISA GA SAYA PAKE BAHASA INGGRIS? “Okay, i’ll try to speak with english ya ka” (english macam apa ya itu campuran)

Lalu kita terlibat pembicaraan tentang pertanian di Indonesia, apa hubungannya departemen saya disini (ilmu keluarga dan konsumen) sama pertanian, bagaimana saya bisa meyakinkan generasi penerus untuk ga memandang sebelah mata pertanian di Indonesia.

Awalnya saya ribet banget ngomong pake inggris tentang pertanian, yaampun yang saya sering omongin tentang bahasa inggris tuh tentang film, lagu, dan bukan topik berat seperti ini pemirsah. Tapi lama-lama saya bisa dengan enjoy masuk ke bahasan ini walau masih dengan bahasa inggris campuran. Dan saya bersemangat banget ngobrol sama si kakak ini tentang pertanian. Di dalam hati saya masih terdengar bisikan-bisikan “SAYA MESTI DAPET NI UKM, MESTI MASUK, HARUS, 
HARUS!”

Pos ke-2 saya diinterview lagi tentang konsistensi saya nanti jika ternyata diterima di IAAS. Dengan yakin saya jawab jika saya sepenuh hati dan akan mencoba konsisten di IAAS ini (tapi masih terlintas bahwa saya juga mesti jadi tim inti Agria Swara). Yah ga saya omongin laaah, pasti saya langsung didepak kaya waktu interview pertama saya ikut Art Dormitory Club (ADC), karena dengan bego saya bilang bakal lebih milih Agria Swara dari pada ADC saat dihadapkan diantara 2 pilihan antara konser Agria Swara dengan acara ADC. Oke saya tau itu agak bego tingkat dewa, tapi sudahlah. Itu pelajaran kaaaan :D

Back to IAAS, Pos ke-3 saya ditanya tentang organisasi dan kepemimpinan. Ini dia yang saya takutin, saya sama sekali ga ada pengalaman organisasi. SAMA SEKALI. Tapi kemudian saya bersyukur banget di TPB (program di IPB) ada mata kuliah sosiologi umum, karena ternyata pertanyaan tentang kepemimpinan dan organisasi yang ditanyain itu SAMA kayak kuis waktu saya kuliah sosum (Save by sosum) dan IP saya sekarang juga lumayan diselamatkan oleh sosum. *oke ga begitu penting
Setelah selesai interview, kita para interviewee disuruh nunggu seminggu untuk kepastian diterima atau tidak. Dan itu baru jadi candidate member, belum jadi member, masih ada serangkaian test, uji coba dan berbagai challenge untuk menentukan kita layak atau tidak jadi member of IAAS.  Oke, hati saya tetep teriak-teriak “HARUS DITERIMA, HARUS, GA BOLEH ENGGA!” dan entah kenapa walau sempet ciut dan ga yakin sebelumnya tapi saat saya selesai interview saya bisa senyum dan ada perasaan yakin “saya pasti diterima” sama kayak waktu saya hari terakhir les bimbel buat masuk kuliah, ada secercah keyakinan disana. “saya pasti jadi kuliah tahun ini” :)

Seminggu kemudian...

Saya ga tau jika hari itu ternyata temen-temen yg kemarin diinterview udah nerima pengumuman diterima atau engga di IAAS. Saya masih inget hari itu, tgl 26 September 2011 bertepatan sama ulang tahun temen saya, saat saya bangun jam 3 untuk siap-siap saur puasa Senin-Kamis saya buka handphone, ada new message disitu. 

“Congratulation. U have been accepted as a new candidate member of IAAS bla bla bla”

HUAHAHAHA seneng banget, gimana perjuangan saya, gimana keyakinan saya. Tapi saya masih nunggu kabar dari temen saya yang hari itu ulang tahun dan interview bareng saya, sambil ngucapin selamat ulang tahun sambil saya tanya apa dia diterima atau engga. Tapi ternyata engga L. Jujur disitu saya sedih, ga ada yang saya kenal di IAAS, padahal kalau dia diterima kan seengganya saya ada temen *NANGIS.  Tapi belajar dari pengalaman saya waktu SMA saat saya seharusnya bisa ikutan padus tapi saya nolak karena mikirnya ga ada temen deket saya yang ikut and because one stupid reason : i’m afraid being alone without anyone i don’t know. Dan saya merasakan penyesalannya sampe sekarang, harusnya ga usah tergantung sama temen. Akhirnya semangat saya dateng lagi untuk lanjutin IAAS, saya harus consist, ga semua dikasih kesempatan buat masuk IAAS. Dan temen saya juga ternyata dapet UKM yang terbaik juga, akhirnya dia jadi anggota FORCES, UKM penelitan bergengsi di IPB. I’m proud of you rul! Saya ga akan masuk IAAS tanpa tips-tips dari lu sebelum kita interview hari itu :)

Untuk jadi real member of IAAS, not only candidate member, Perjuangan saya belum berhenti di situ, serangkaian challenge dari mulai bikin video, bikin semacam Artikel (kalau sekarang di IAAS namanya I-flash), bikin maket, bikin Buku IOP, name tag kayak waktu MOS, pengalaman jadi panitia pertama kali di acara IAAS Olympic, BOS (Building On Success), Pelantikan IOP, Sidang LCC dan lain-lain yang ga rugi banget dan sangat worth it untuk diikuti. Beside, serangkaian acara itu bikin kita, para candidate member, untuk jadi lebih dekat satu sama lain. Acara jualan di sempur untuk danus, gedor-gedor pintu asrama buat jual donat, ngantri donat subuh-subuh sebelum kuliah. What a beautful moment isn’t it?

Dan akhirnya penentuan member pun tiba, dengan serangkaian seleksi oleh kakak-kakak IAAS akhirnya dari sekitar 500 orang yang daftar *CMIIW, terpilih lah 55 member IAAS. Saat mendapat sms nya, saya gabisa berenti senyum. “Congratulation, u’ve been accepted as A MEMBER of IAAS bla bla bla” oke pemirsah I’M A REAL MEMBER of IAAS now. I’m thinking back then, looked i used to try hard before this moment come. Segala perjuangan, semua terbayar lunas waktu dapet sms jika saya diterima. Bener-bener power of spirit. Dan sekarang disinilah saya member of IAAS IOP 19, dept HRD, Disini saya mendapatkan teman-teman yang solid, kompak dan sangat merangkul. Well, mudah-mudahan saya bisa kasih kontribusi terbaik ya. Walaupun saya masih tetap ngejar Agria Swara. Ga salah kan kalau yakin bisa ngebagi waktunya? Bismillah. dengan niat apapun pasti bisa :)

Yakin sama apa yang ingin kalian capai, berdoa. Dan saya bener-bener yakin akan the Power of Spirit, saat kita bilang diri kita bisa, kita pasti bisa. Sudah berkali-kali saya alami ini. Yap, Power of Spirit and Confidence.Believe that we can do and yes, we can.

Okeee sekarang siap-siap untuk project-project IAAS selanjutnya. Open Recruitment IOP 20. I’m comiiiiing :)

Tuhan. Matikan rasa ku untuk nya

from here

Andai kau tau aku bukan hanya sedih, aku bukan hanya pusing, aku bukan hanya capek. Tapi aku juga sakit hati. Aku hanya ingin Tuhan mematikan rasa ku untukmu. Membenamkan segera memori dan ingatan ku tentangmu. Aku hanya ingin hilang ingatan. Aku hanya tak ingin mengingatmu lagi, Sayang. Semakin aku mencoba meraihmu, semakin banyak sakit hati yang aku dapat. Aku yang perasaan nya terlalu peka dan kau yang terlalu menganggap enteng dan tak begitu acuh membuat ku tak tahan lagi mencoba mendapatkanmu. Aku hanya ingin menyerah tanpa harus menangis dan berharap lagi. Demi Tuhan. Aku ingin hilang ingatan.

Tuesday, February 7, 2012

Is that just a dream?

pict from here

Pagi ini gue bangun tidur di ruang tengah, pas gue inget-inget dan akhirnya gue inget, semalem gue lagi nonton tapi ketiduran :D di tengah lagi inget-inget ada satu hal lagi yang mengganjal. Tentang mimpi gue semalem. Memang sih banyak orang yang bilang mimpi itu cuma bunga tidur, Cuma pelengkap alam bawah sadar kita saat terlelap. Tapi pernah ngalamin ga lu galau gara-gara mimpi karena mimpi lu aneeeeh. Mmm agak terlalu dramatis sih.. hehe tapi itulah yang tadi pagi gue alami, mimpi gue semalem ko aneh banget gitu ya, jadi ceritanya gue mimpi gue nemuin kotoran di lantai rumah gue, dan entah kenapa gue bisa yakin itu kotoran manusia, bukan kotoran hewan, dan entah kenapa pula, dengan ikhlas gue ngebersihin itu kotoran sampe lantai gue bersih lagi, dan ga ada bau sama sekali. Aneh ga sih? Well, mungkin biasa aja, tapi gatau kenapa gue penasaran maksud dari mimpi gue apa. Dan saat terbangun dari mimpi gue itu yang langsung gue cari adalah Handphone, bukan, bukan mau nelfon temen buat curhat tentang mimpi gue. Ga penting juga yaaa gue jam 4 pagi nelfon bangunin temen gue buat curhat tentang mimpi gue.. Jadi yang gue lakukan saat mengambil handphone adalah liat jam 4.48 lalu gue buka google dari opera mini. Gue masukin key words ‘arti dan tafsir mimpi’ hehe yah gue sih bukan tipe orang yang begitu percaya kayak gini.. iseng-iseng ajalah dan saat gue buka artikel yang memuat pembahasan tentang mimpi ternyata mimpi gue berarti akan ada rezeki yang kita dapat. Hmmm.. percaya ga percaya yah, tp tetep dong wallahu ‘alam, kan yang nentuin musibah sama rezeki hanya Allah SWT, gue sih kalo bener dapet rezeki ya bersyukur sama yang di atas kalo engga yaaaaa memang belum waktunya dapet rezeki. Setelah browsing-browsing tentang mimpi, gue langsung beranjak buat mandi soalnya bentarlagi temen gue jemput buat nganterin nyari sponsor. Alhamdulillah juga punya temen baik, relaaaa aja gue ajak muter-muter nyari sponsor dari kemaren. Thanks to Kevin ‘aka’ Ojan bang ojek gue Minggu ini :D
Belum aja gue pake baju, nyokap udah cegat gue depan pintu terus cerita soal bokap yang baru pindah rumah baru di Sukabumi, katanya mitos kalo pindah ke rumah baru itu kan pasti dijailin ya, nah bokap gue juga gitu, dia cerita ke nyokap kalo di rumah baru nya sering ada hal-hal ga logis, ade gue yang suka denger suara aneh, terus baru kemaren bokap gue nyimpen obat di kamar eh ilang. Udah dicari ternyata ada di ruang TV. Mmm kalo itu ada yang ‘jail’ atau lupa naro ya? Tapi bokap yakin banget sih kalo obat di kamar. Sekali lagi, wallahu ‘alam. Hehe
Ngedenger nyokap cerita kayak gitu gue jadi tiba-tiba inget mimpi gue, pas gue ceritain sama nyokap dia teriak “Waaaah itu sih bakal keilangan” DEG gue kaget O.o jadi gue mesti percaya yang mana ya? Yang dapet rejeki atau yang keilangan? Well, gue sih ga percaya, yang jelas kalau misalnya gie harus kehilangan sesuatu ya mungkin udah waktu nya gue harus kehilangan sesuatu itu dan kalau pun gue dapet rezeki, ya memang karena gue harus dapet rezeki itu kan? Semua karena yang diatas, bukan karena mimpi.
Tapi gue sempet kepikiran, apa gue bakal keilangan dia? Mmm. Cowo gue. Hubungan gue sama dia kaykanya memang udah ancur seancur-ancurnya. Kita udah lama saling nyakitin, bukan salah dia, tapi bukan salah gue juga. Mungkin klise, karena kita satu sama lain udah ga bisa toleransi diri masing-masing, udah ga bisa nyelesein masalah tanpa saling nyakitin.
Well, bukannya hubungan juga harusnya sesuatu yang bikin nyaman satu sama lain? Gue ngerasa baik dia maupun gue udah ga nyaman sama hubungan ini.
Jadi apakah mimpi gue karena bakal keilangan dia yang selama 3 taun ini udah ngisi hidup gue?
Atau gue bakal kehilangan dan dapet rezeki di waktu yang bersamaan? Selintas gue berfikir, apa kehilangan dia berarti rezeki? Bagi gue maupun dia. Karena kita udah ga saling melengkapi. Gatau, biar waktu deh yang ngejawab, walau pun waktu-waktu itu harus gue lewatin pake nangis, sakit kepala, merasa tersisih. Well, mungkin itulah proses. Who knows that  it would be better?